Bagaimana Membuat Keputusan untuk Berkarir?

Bandung, ITB Career Center - Banyak yang menganggap bahwa karir adalah cerminan dari diri kita pada sebuah tatanan industrial masyarakat. Salah memilih sebuah karir bisa dianggap gagal merencanakan hidup yang akan berdampak pada 5 sampai 10 tahun ke depan.

Altona Widjaja, Head of New Digital Ventures OCBC NISP mengatakan bahwa anggapan tersebut meski berdampak panjang, ternyata tidak selamanya benar.

Ia beranggapan bahwa memilih karir adalah hal yang krusial, namun seringkali kita terjebak pada pandangan umum (common views) yang ada di masyarakat. Mengutip riset Venture Capitalist, Altona memaparkan bahwa tren industri lebih banyak menggiring freshgraduate untuk menciptakan karir lewat pendirian startup. Meski baik, namun, pada kenyataannya, hanya 1:1000 startup yang diyakini bisa berkelanjutan (sustain) dan sukses.

"Meski tren ketenagakerjaan mulai beralih pada startup, tak banyak yang bisa kita pertaruhkan pada pasar yang progessif ini mengingat hanya ada 1 banding 1000 startup yang akan menguasai pasar. Lihat, masih banyak industri yang sudah dan sedang berjalan (bank, tambang mineral, dll) tidak bisa dialihkan ke bentuk usaha yang lebih mikro. Karna itulah, kita jangan mudah tenggelam dalam common views. Dalam memilih karir pun, kita harus menganalisa keputusan kita dengan benar. Apakah sebuah bidang industri aman, challenging, potensial untuk pengembangan atau tidak," katanya ketika ditemui media ITB Career Center.

Untuk mengambil keputusan tersebut, mantan Vice President OCBC Bank Singapura ini mengimbau peserta ITB Company Week untuk mengenal dirinya sendiri. Pengenalan diri ini akan bercabang pada kecocokan passion dengan kebutuhan ketenagakerjaan di dunia usaha dan dunia industri.

"Sebelum memilih karir dan lowongan tertentu, riset dulu bidang apa yang kamu kuasai, apa yang ingin kamu kembangkan. Setelah itu, cocokkan dengan kebutuhan pasar, kenali industri yang akan kamu bidik," imbaunya.

Dalam menyelami industri tersebut, insinyur lulusan NTU dan NUS ini bercerita bahwa memiliki seorang pemimpin atau mentor yang mampu mengajak berkembang, adalah lebih baik daripada berkarir di perusahaan yang sudah established namun tidak memberi ruang karyawannya untuk berkembang.

"Meski dalam sebuah perusahaan ada Tim Human Resources (HR), tetap saja, kita harus menentukan posisi dan nilai jual kita di industri tersebut. Untuk memahami posisi kita berkembang atau tidak, kita butuh seorang mentor," ungkap Altona.

"Mentor mampu menilai, memotivasi, dan mendukung kita untuk maju. Buat apa kita bekerja di perusahaan yang sudah maju dan mapan tapi tidak challenging sama sekali, jatuhnya kita hanya meneruskan tongkat estafet saja tanpa perlu berkontribusi banyak dan menyalurkan bakat kita di perusahaan. Karenanya, berkarir itu akan lebih baik jika kita memiliki koneksi dengan orang yang tepat (bisa senior atau pemimpin) yang mampu memberi kita kesempatan untuk berkembang," paparnya. (fulca)



Komentar



Return to previous page Total view : 283
Frequently asked questions
Mengapa saya tidak bisa login?

Saya lupa username/password, Saya sudah menggunakan fitur "forgot password", mengapa saya masih gagal login juga?

Setelah registrasi saya telah melakukan verifikasi email tapi saya masih belum dapat melakukan login. Apa yang kurang?

More