Minimal IPK 3.3, McKinsey Seleksi Kandidat dari ITB untuk Program Consulting Analyst

McKinsey & Company, perusahaan konsultan terkemuka dunia sambangi ITB untuk kenalkan Program Consulting Analyst, Jumat (28/9/2018). (Dok. ITB Career Center/fulca)

Bandung, ITB Career Center ΜΆ McKinsey & Company, perusahaan konsultan terkemuka dunia sambangi ITB untuk kenalkan Program Consulting Analyst, Jumat (28/9/2018).

The Consulting Analyst Program yang merupakan program tahunan McKinsey ini diadakan guna membentuk lulusan dari perguruan tinggi top tier seperti ITB untuk akselerasi posisi Business Analyst.

Meski begitu, proses seleksi McKinsey kali ini berlangsung ketat. Pasalnya, tes yang tertutup untuk alumni ITB ini mengharuskan kandidatnya untuk memiliki IPK minimal 3.3 untuk lolos ke tahap selanjutnya.

“Kali ini, 120 peserta sudah terseleksi untuk mengikuti tahap selanjutnya, yakni problem solving test. Teman-teman yang berpartisipasi hari ini sudah terseleksi, dari IPK pun kami sangat selektif, minimal 3.3,” papar Dilla Hernowo, Recruiting Coordinator McKinsey & Company.

Alris Alfharisi, Business Analyst McKinsey mengatakan bahwa Consulting Analyst sendiri merupakan posisi strategis untuk menjadi partner di perusahaan konsultan terbesar di dunia tersebut.

“Consulting Analyst Program adalah pre-Business Analyst Program. Jika lolos, kalian akan melewati berbagai tahapan untuk menjadi partner. Dari consulting analyst, business analyst, junior associate, associate, junior partner, hingga partner,” jelas pria yang mengenyam pendidikan di Teknik Tambang ITB dan ENSPM di Prancis tersebut.

   

Alris Alfharisi, Business Analyst McKinsey memaparkan tentang jenjang karir sebagai konsultan hingga partner di McKinsey&Co. Kurang lebih 120 peserta dari ITB mengikuti seleksi lanjutan problem solving test McKinsey di Auditorium IPTEKS ITB. (Dok. ITB Career Center/Fulca)

Selama 90 tahun, perusahaan yang telah bekerja bersama konsultan yang tersebar di lebih dari 60 negara ini telah berkecimpung dalam berbagai design strategi dan eksekusi proyek untuk banyak klien dan industri di seluruh dunia.

Rahadi misalnya, telah berkecimpung dalam berbagai proyek setelah bergabung selama satu tahun sebagai Business Analyst di McKinsey. Kepada kandidat, Ia menceritakan bahwa latar belakang pendidikannya tidak melulu mengharuskannya terjun di proyek yang sama seperti di dunia kuliah. Pria yang memiliki gelar Sarjana Teknik dari Teknik Mesin ITB ini bahkan mengerjakan proyek-proyek Telekomunikasi, Banking, dan Mergers and Acquisitions (M&A) di McKinsey.

“Tantangan terbesar saya adalah ketika ada transisi dari background pendidikan saya di Teknik Mesin ke proyek-proyek di McKinsey. Saya harus adaptasi untuk memahami bisnis. Namun, saya bisa bilang bahwa proyek itu adalah yang paling berkesan. Ketika delivered data dan analisis kepada klien saya dengan memberikan prediksi-prediksi untuk strategi perbankannya, hingga berhasil membantu klien untuk mencapai targetnya, itu rasanya challenging sekali,” ujarnya.

McKinsey bahkan menyediakan berbagai kemudahan bagi kandidat terseleksi untuk mencapai target dan belajar menyelesaikan proyek-proyeknya dengan mengakomodasi kesempatan training dengan senior McKinsey.

“Dalam setiap proyek, kalian bisa memilih skills apa yang akan dikembangkan. McKinsey selalu akan mengakomodasi kebutuhan setiap konsultannya. Untuk mempengaruhi klien dan memberikan impact kepada proyek tertentu, couching dan mentoring adalah kuncinya, disamping selalu membaca semua project, diskusi dengan leader dan tim. The best way is to learn from the people who already done the project!” tambah Rahadi. (fv)



Komentar



Return to previous page Total view : 1026
Events & Calendar
    • No Upcoming Event
Frequently asked questions
Mengapa saya tidak bisa login?

Saya lupa username/password, Saya sudah menggunakan fitur "forgot password", mengapa saya masih gagal login juga?

Setelah registrasi saya telah melakukan verifikasi email tapi saya masih belum dapat melakukan login. Apa yang kurang?

More