Indonesia Human Capital Summit 2017 Part II

Jakarta, ITB Career Center - Hari kedua Indonesia Human Capital Summit 2017 dimulai pukul 08.00 WIB dengan menghadirkan pembicara yang tak kalah menarik dari hari pertama. Perlu diketahui, bahwa Forum Human Capital Indonesia (FHCI) adalah salah satu cara mengembangkan sumber daya manusia (human capital) di Indonesia. Talent unggulan perlu dikembangkan sesuai dengan keahlian dan bidang masing-masing.

Berikut catatan penting yang ditulis langsung oleh Direktur ITB Career Center, Dr. Eng. Bambang Setia Budi, ST., MT setelah mengikuti acara ini pada hari kedua. Ada beberapa opini pribadi dengan harapan untuk bisa berbagi sebagian materi, diskusi, pengetahuan, wawasan, dan isu yang berkembang yang perlu diketahui serta bermanfaat bagi pembaca/pemerhati sdm yang tidak berkesempatan hadir umumnya, dan anggota Indonesia Career Center Network atau para pegiat pusat karir di kampus-kampus khususnya.

Keynote Speaker

Sesi keynote speaker diisi secara panel sebagaimana hari pertama, yakni oleh Cahyana Ahmadjayadi, expert fasilitator, founder dan chairman Citiasia Inc. dengan tajuk Encourage Spirit of Creating Innovation Ecosystem. Pembicara kedua oleh Signe Spencer, selaku senior client partner, Korn Ferry Institute, Korn Ferry, bertajuk Strengthening Digital Leadership Competencies and Lifelong Learning for Skills Enhancement.

Digital ecosystem membutuhkan digital mindset, sekaligus juga jangan sekali-kali bertentangan dengan humanity baik secara moral maupun etika. Kemudian bertindak secara cepat, melakukan visualisasi masa depan dan mempunyai adaptive mindset adalah bentuk penguatan untuk digital leadership. Satu lagi, untuk digital leadership ini sangat diperlukan leader yang berkarakter memimpin (selalu) terdepan tetapi dengan kerendahan hati. Memimpin talent-talent hebat itu justru harus dengan kerendah-hatian.

Plenary Session

Pertama diisi oleh Firdaus Alamsjah, Executive Dean & Provost, Binus International dengan topik Creating World Class Innovators and Entrepreneuers. Catatannya inovasi membutuhkan talent yang hebat dan tepat. "Innovator itu do different, move fast, start somewhere and start small".

After Lunch, ada 4 panel presentasi di ruangan yang berbeda secara paralel. Satu ruangan bertopik Attracting Eminent Talent dengan pembicara Ilham Habibie (Presiden Direktur PT IIthabi Rekatama, putra B.J. Habibie) dan Achmad Zaky (Founder dan CEO Bukalapak). Ruang lainnya, bertopik Retaining High Performance Talent dengan pembicara Muhammad Ali (Director of HCM, PLN) dan Willy Saelan (Vice President HR PT Unilever Tbk), ruang lainnya lagi bertajuk Talent Nurturing for Business Transitioning dengan pembicara Sylvano Damanik (Managing Director Korn Ferry Hay Group Indonesia) dan Ihsanuddin Usman (Senior Human Capital PT Pertamina), dan ruangan satu lagi bertajuk From Challenges to Opportunities by People Analytics dengan pembicara Rukhsana Pervez (Indonesia Human Capital Director, Deloitte Consulting Southeast Asia) dan M. Hamied Wijaya (Director of HR and General Affairs PT Pelindo I).

Saya memilih menghadiri presentasi Rukhsana Pervez dengan topik People Analytics. Presentasinya menurut saya sangat menarik atau tepatnya saya sukai. Menjelaskan betapa pentingnya people analytic ini, dan apa bedanya report hasil riset saja dengan people analytics. People Analytic tidak hanya deskriptif, tetapi juga prediktif, dan proskriptif. Tantangan terbesar dari data driven adalah akurasi. Betapa pentingnya akurasi data untuk kesuksesan hari ini dan masa depan. In God we trust, all others (must) bring data. Without data you are just another person with an opinion (W. Edwards Deming). You cannot manage what you cannot measure (H. James Harrington).

Menyambung soal data ini dipresentasinya Achmad Zaky, lebih tajam lagi, data is our boss katanya. Data is apolitical. It eliminates office politics because it is always right. Ironinya, di rapat-rapat kita, sering boss atau pimpinan jadi dominan, bicara ngalor-ngidul sesuatu yang tidak penting dan tidak masuk langsung pada persoalan dan (apalagi) solusinya, dengan tanpa menggunakan data hanya opini pribadi. Ini budaya yang harus berubah.

Zaky dan Bukalapak-nya menurut saya men-deconstruct semua tatanan dan corporate culture seperti di BUMN atau (apalagi) di pemerintahan. Memang mungkin presentasinya hanya sebatas sharing karena mustahil bisa dijalankan di corporate culture yang biasa dan sudah established. What is KPI? Rumit dan ngerepotin. Struktur gaji, cukup ngebit dan/atau dengan whatsapp. Kerja boleh dimana saja dan datang ke kantor boleh kapan saja sesukanya. Bahkan, ada talent-nya yang wanita karena melahirkan, boleh tidak datang ke kantor karena mengurusi baby-nya selama setahun dengan tetap bekerja. Dengan saat ini memimpin 1300 talent, Bukalapak juga turnover-nya almost zero. Bagaimana caranya? Strateginya ia gunakan sharing stocks, dan transparansi semuanya. Setiap tahun lebih dari 50ribu pelamar.

Pada kesempatan itu, di forum saya sampaikan bahwa kegundahan tentang talent orang-orang sukses pada hari pertama yang perlu diseimbangkan. Dan ini salah satu buktinya. Kalau tidak seimbang, bisa muncul mindset bahwa orang-orang sukses tidak harus juga sukses dalam sekolah atau cukup kerjaannya main game saat kuliah buat generasi millenial. Tetapi seperti Zaky dan juga Fajrin Co-Founder nya, itu mereka alumni ITB prodi Informatika dengan IP semuanya 4. Jadi semua mata kuliah tidak ada yang tidak dapat A. Orang sukses bisa dari mana saja, bisa kuliahnya drop out pun bisa sukses, tetapi jumlahnya terlalu sedikit, dibanding dengan talenta hebat yang karena kuliahnya juga sukses.

Terakhir adakah talkshow bertajuk Cultivating a Culture of Innovation to be a Great Nation oleh Wisnutama Kusubandio (CEO PT Net Mediatama Televisi), dan Lyra Puspa (Founder, President and Master Coach Vanaya Institute). Catatannya Innovator harus growth mindset dan dophamine (chemical for happiness and innovation), pegawai millenial sangat menguntungkan karena virtually accessible, anytime dan anywhere. Yang menarik adalah statement Wisnutama tentang loyality. Bagaimana dengan loyality talent millenial? Dia jawab: Loyality is bullshit. Loyalitas cukup kepada Tuhan, dan keluarga, atau istri misalnya. Tetapi loyalitas pada pekerjaan itu bullshit.

Anda bisa setuju bisa juga tidak. Kalau saya hampir 90 persen setuju, saya melihat generasi hari ini, bahkan di Jepang sekalipun yang sangat kokoh dalam tradisi loyalitas pada pekerjaan, itu hanya terjadi pada orang-orang tua. Generasi muda Jepang hari ini juga bukan sesuatu yang tabu dan bahkan cenderung juga bisa terjadi pindah-pindah kerja. Apalagi generasi millenial di negara yang lain termasuk di Indonesia. Hanya dengan corporate culture yang totally dirubah dengan strategi-strategi baru untuk beradaptasi saja yang akan tetap bisa bertahan. Bukalapak mungkin menjadi salah satu contohnya dengan almost zero turn-over. Dan akhirnya catatan dari talkshow ini meyakinkan peserta talkshow dan pembaca bahwa Indonesia akan menjadi negara besar. Dan itu tidak lama lagi.

(Dr. Eng. Bambang Setia Budi, ST., MT)



Komentar



Return to previous page Total view : 117
Frequently asked questions
Mengapa saya tidak bisa login?

Saya lupa username/password, Saya sudah menggunakan fitur "forgot password", mengapa saya masih gagal login juga?

Setelah registrasi saya telah melakukan verifikasi email tapi saya masih belum dapat melakukan login. Apa yang kurang?

More