CEO No Limit: Utamakan Kebutuhan Konsumen dalam Berbisnis

Aqsath Rasyid Naradhipa, CEO No Limit  berbagi kisah suksesnya dalam membangun bisnisdalam acara Seminar PMW. Acara dilaksanakan di R.9212 GKU Timur Paragon Innovation ITB Lantai 2, pada Jumat (27/9/2019). (Dok. ITB Career Center/Mar)

 

Bandung, ITB Career Center – Program Mahasiswa Wirausaha (PMW) ITB 2019 kembali mengadakan seminar kewirausahaan. Seminar bertema Success Story ini mengundang Aqsath Rasyid Naradhipa, CEO No Limit untuk berbagi kisah suksesnya dalam membangun bisnis. Acara dilaksanakan di R.9212 GKU Timur Paragon Innovation ITB Lantai 2, pada Jumat (27/9/2019).

PMW merupakan salah satu program Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Kemendikbud melalui ITB. Salah satu rangkaian kegiatan PMW adalah mengadakan Workshop PMW kepada para penerima PMW, Program Kompetisi Bisnis Mahasiswa Indonesia (KBMI), dan Program Kewirausahaan Mahasiswa Indonesia (PKMI) tahun 2019.

Aqsath yang merupakan alumni Teknik Informatika ITB angkatan 2006 menjalankan perusahaannya No Limit sejak tujuh tahun lalu. No Limit sendiri merupakan perusahaan berbasis teknologi yang memiliki fokus untuk memonitori dan analisis pada media online dengan menggunakan teknologi Big Data. Hasil dari monitoring dan analisis digunakan oleh klien untuk mendapakan gambaran hubungan antara perusahaan dengan konsumen.

Salah satu moto perusahaan yang dianut adalah Never Ending Learning and Improvement. Sesuai motonya, perusahaan akan terus berkembang dan mengikuti perkembangan media sosial dan juga kebutuhan dari konsumen NoLimit.

“Apa yang kita butuhkan untuk berkembang. Saat kita memiliki sebuah produk, kita harus mengetahui apa yang konsumen butuhkan. Mungkin kita sudah membuat produk yang terbaik, tetapi belum tentu itu yang dibutuhkan oleh konsumen,” ujarnya.

Untuk mengetahui kebutuhan konsumen, kita dapat menggunakan sistem Technology Commercialization dengan melakukan bisnis berbasis research. Ada beberapa tahap yang dapat kita lakukan. Pertama adalah component, kedua adalah module, ketiga adalah product, terakhir adalah solutions.

“Contohnya hasil kerja kerasa saya selama dua tahun di S2, berujung pada satu hasil yaitu tesis. Sebagai anak ITB yang sudah menjalankan dengan maksimal, saya merasa tesis tersebut adalah hasil terbaik, Jadi kita menganggap kalau tesis adalah produk unggulan kita. Nyatanya itu hanyalah component, tidak semua component dapat bernilai ekonomi,” ujarnya.

Aqsath menjelaskan, component atau produk yang kita miliki mungkin memang merupakan produk terbaik. Tetapi, belum tentu dapat menjadi solusi yang dibutuhkan oleh konsumen. Untuk mengembangkan component yang kita miliki agar sesuai dengan keinginan pasar adalah membuat module.

Module berisikan analisis feedback orang lain terhadap produk kita. Feedback masih bersifat umum. Kita dapat mencari tahu feedback melalui media sosial, seperti Facebook, Instagram, Twitter dan lainnya. Dashboard berisikan analisis yang lebih dalam dan terperinci. Dari sini kita dapat mengetahui solusi apa yang dibutuhkan oleh konsumen.

“Pada tahap module ini mulai terbayang, bagian mana yang ternyata kurang. Setelah tahap ini, yang kita miliki adalah product, kita memiliki dashboard sendiri,” ujarnya.

Terus berkembang merupakan hal yang harus dilakukan oleh setiap perusahaan. Apalagi perusahaan berbasis teknologi, dimana perkembangan teknologi kini begitu pesat. Menurut Aqsath, sebagai pembisnis, kita harus dapat mengetahui apa yang sebenarnya dibutuhkan oleh konsumen. Sehingga, tidak hanya perusahaannya yang berkembang, setiap konsumen dari pun akan terus berkembang bersama perusahaan. (Mar)



Komentar



Frequently asked questions
Mengapa saya tidak bisa login?

Saya lupa username/password, Saya sudah menggunakan fitur "forgot password", mengapa saya masih gagal login juga?

Setelah registrasi saya telah melakukan verifikasi email tapi saya masih belum dapat melakukan login. Apa yang kurang?

More